Pelajaran dari 30DWC
Oktober 10, 2024 Tinggalkan komentar
Semua berawal dari mentoring yang mencoba memberikan kesadaran kepada kami, bagaimana menjalani hidup ini sesuai dengan peran dan prioritas masing-masing. Saat itu mentor memberikan kami arahan untuk menentukan tujuan yang akan kami capai di akhir tahun ini. Aku menuliskan “akan menghasilkan sebuah buku di akhir tahun 2024.”
Entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku menuliskan tujuan seperti itu. Memangnya mudah menulis buku? Ya, memang aku sempat menulis dua buku antologi, tapi ini adalah merupakan buku solo pertamaku. Dan topik yang kupilih adalah berbentuk perenungan dari pengalamanku saat berhaji. Tentu tidak bisa seringan dan semudah menulis fiksi atau jurnal.
Namun, karena telanjur sudah kutentukan, aku mencoba mengambil aktivitas-aktivitas yang mendukung tujuanku ini. Allah menentukan ternyata Jilid ke-47 dari 30 Days Writing Challenge menghampiriku tak lama setelah itu. Aku sudah tahu kegiatan online ini sejak lama, karena digagas oleh bang Rezky yang beririsan di beberapa komunitas denganku. Akhirnya akupun mendaftar, dengan niat untuk membangun habit menulis setiap hari dalam rangka merampungkan bukuku.
Ternyata menulis setiap hari itu “nagih” atau adiktif. Itu pikiranku di pekan pertamaku. Namun setelah bank ide mulai mengering karena idenya dipakai untuk menghasilkan tulisan setiap hari, aku mulai merasa bingung dan merasa tugas menulis itu adalah beban yang menjadi “utang”-ku setiap hari. Sesuatu yang mengganjal saat belum dituntaskan.
Aku mulai terlambat menyetorkan tulisan dan menulis lepas tengah malam, bahkan ketika bangun di jam 1 atau 2 dini haripun aku akan mencoba menulis. Namun akibatnya, apa yang kutuliskan sangat “alaa kulli haal“, kalau meminjam istilah Ustadz Abdul Aziz. Sangat ‘asal ada saja’, banyak kesalahan dalam menulis istilah, bahkan detil tanda baca masih banyak yang tak terperhatikan. Lebih parahnya lagi, ada tulisan yang tidak selesai alias belum tuntas dan menggantung. Alhasil menuai kritik saat diberikan feedback dari peserta lain.
Penilaian dari peserta lain, yang umumnya tidak begitu sadis, masih menemukan banyak kesalahan yang sebenarnya sudah kusadari, namun tak sempat kubenahi. Masukan dari mentor non-fiksi, juga dua kali masih membahas tentang detil penulisan yang abai kudisiplinkan, typo di sana sini dan penulisan kata dengan ejaan yang kurang tepat. Pelajaran terbaik yang aku dapatkan adalah : aku masih harus banyak belajar, jauh sebelum bermain di ranah ide atau permainan bahasa, dari segi kaidah tata bahasa akupun masih banyak tertinggal.
Walaupun begitu, aku memiliki koleksi draft tulisan sebanyak tiga puluh judul yang siap untuk kuolah dan kusempurnakan. Hal itu cukup menghiburku, namun juga menyisakan PR yang harus kukerjakan kalau aku benar-benar mau mencapai tujuanku untuk menghasilkan buku di akhir tahun 2024. Semoga aku bisa mencapainya dengan baik.






