Pelajaran dari 30DWC

Semua berawal dari mentoring yang mencoba memberikan kesadaran kepada kami, bagaimana menjalani hidup ini sesuai dengan peran dan prioritas masing-masing. Saat itu mentor memberikan kami arahan untuk menentukan tujuan yang akan kami capai di akhir tahun ini. Aku menuliskan “akan menghasilkan sebuah buku di akhir tahun 2024.”

Entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku menuliskan tujuan seperti itu. Memangnya mudah menulis buku? Ya, memang aku sempat menulis dua buku antologi, tapi ini adalah merupakan buku solo pertamaku. Dan topik yang kupilih adalah berbentuk perenungan dari pengalamanku saat berhaji. Tentu tidak bisa seringan dan semudah menulis fiksi atau jurnal.

Namun, karena telanjur sudah kutentukan, aku mencoba mengambil aktivitas-aktivitas yang mendukung tujuanku ini. Allah menentukan ternyata Jilid ke-47 dari 30 Days Writing Challenge menghampiriku tak lama setelah itu. Aku sudah tahu kegiatan online ini sejak lama, karena digagas oleh bang Rezky yang beririsan di beberapa komunitas denganku. Akhirnya akupun mendaftar, dengan niat untuk membangun habit menulis setiap hari dalam rangka merampungkan bukuku.

Ternyata menulis setiap hari itu “nagih” atau adiktif. Itu pikiranku di pekan pertamaku. Namun setelah bank ide mulai mengering karena idenya dipakai untuk menghasilkan tulisan setiap hari, aku mulai merasa bingung dan merasa tugas menulis itu adalah beban yang menjadi “utang”-ku setiap hari. Sesuatu yang mengganjal saat belum dituntaskan.

Aku mulai terlambat menyetorkan tulisan dan menulis lepas tengah malam, bahkan ketika bangun di jam 1 atau 2 dini haripun aku akan mencoba menulis. Namun akibatnya, apa yang kutuliskan sangat “alaa kulli haal“, kalau meminjam istilah Ustadz Abdul Aziz. Sangat ‘asal ada saja’, banyak kesalahan dalam menulis istilah, bahkan detil tanda baca masih banyak yang tak terperhatikan. Lebih parahnya lagi, ada tulisan yang tidak selesai alias belum tuntas dan menggantung. Alhasil menuai kritik saat diberikan feedback dari peserta lain.

Penilaian dari peserta lain, yang umumnya tidak begitu sadis, masih menemukan banyak kesalahan yang sebenarnya sudah kusadari, namun tak sempat kubenahi. Masukan dari mentor non-fiksi, juga dua kali masih membahas tentang detil penulisan yang abai kudisiplinkan, typo di sana sini dan penulisan kata dengan ejaan yang kurang tepat. Pelajaran terbaik yang aku dapatkan adalah : aku masih harus banyak belajar, jauh sebelum bermain di ranah ide atau permainan bahasa, dari segi kaidah tata bahasa akupun masih banyak tertinggal.

Walaupun begitu, aku memiliki koleksi draft tulisan sebanyak tiga puluh judul yang siap untuk kuolah dan kusempurnakan. Hal itu cukup menghiburku, namun juga menyisakan PR yang harus kukerjakan kalau aku benar-benar mau mencapai tujuanku untuk menghasilkan buku di akhir tahun 2024. Semoga aku bisa mencapainya dengan baik.

Kebangkitan Umat

Peringatan setahun dari Banjir Al Aqsa baru saja berlalu. Aku mengisinya dengan mendengarkan berbagai ulasan dan analisa dari berbagai pakar, ustadz dan influencer di Youtube, Telegram maupun artikel online. Dari semua yang kuserap, ada satu hal yang semua pihak sadari : umat ini sedang mati.

Umat Islam, dulunya adalah singa, pengusasa yang disegani. Sang Raja yang bijak, yang memperhatikan rakyatnya yang terbentang dari Maroko hingga Nusantara. Kondisi ini tidak untuk kita ratapi dengan sedu-sedan melankoli, tapi untuk disadari agar kita usahakan untuk bangkitkan kembali.

Praktik tak semudah angkat bicara. Apa yang menewaskan kedaulatan umat Islam, telah tumbuh menjadi entitas yang menggurita, yang mencengkeram umat yang banyak itu tapi berada dalam kotak-kotak negaranya masing-masing.

Semangat nasionalisme digaung-gaungkan, tak lama setelah sang kolonialis mundur dari upaya imperialismenya dan menemukan cara lain untuk menjajah bangsa-bangsa yang mereka anggap “terbelakang” itu. Ya, dengan memecah belah mereka bagai bilah bambu, sebagian diinjak, sebagian diangkat untuk kemudian dipatahkan dan dicerai-beraikan agar lemah, agar mudah diatur.

Kemudian perikehidupan merekapun dijauhkan dari identitas yang menyatukan mereka dahulu, akidah Islam. Islam boleh hidup tapi hanya sebagai ritual, sebagai ibadah mahdhah. Jihad, sirah apalagi jejak-jejak masa keemasan Islam, tidak boleh hadir dalam buku pelajaran. Semuanya tabu untuk dibahas, hingga akhirnya menghilang dalam pergantian generasi.

Kehidupan ekonomi pun diatur, dalam kesepakatan dan kelompok-kelompok perdagangan yang membuat peraturan-peraturan yang menguntungkan mereka, si kolonial yang sudah berganti kostum. Pada dasarnya mereka tetaplah seorang pemangsa yang mengincar sumber daya negara-negara yang kaya seperti kita. Diaturlah agar negara kita tak boleh swasembada, tak boleh berdikari, harus mengimpor, harus memasukkan produk-produk yang dianggap unggul dengan klasifikasi dan ketentuan tertentu. Pada akhirnya perusahaan dalam negeri mati dan punah, sehingga negara betul-betul tak bisa hidup tanpa pasokan dari negara luar.

Seberapa banyak dari umat yang menyadari kenyataan pahit ini ? Akankah mereka menjadi Neo dalam film Matrix yang menyadari bahwa kehidupan nyata begitu buruk dibandingkan dengan kehidupan maya yang menutupi realitas. Dan pertanyaan pentingnya, setelah mereka terbangun, apa yang akan umat lakukan ?

PR kita masih banyak. PR kita mungkin tak akan selesai dalam satu generasi. Dibutuhkan lima puluh tahun dari masa Imam Ghazali melakukan ishlah atau perbaikan dari sistem pendidikan sebelum akhirnya melahirkan madrasah-madrasah yang menghasilkan generasi Imadudin Zanki dan Nuruddin Zanki, yang kemudian dipuncaki dengan Shalahuddin Al Ayubi. Ini PR umat, untuk menyatukan energi bersama dalam suatu upaya yang kompak dan terarah.

Siapkah kita ? Siapkah kita bangun di setiap dini hari dengan semangat membara, untuk selalu fokus pada satu tujuan : kebangkitan umat Islam.

Picture : freepik

Negara Yang Bernama Pikiran

Di dalam negara yang bernama pikiran itu, seluruh rakyat memiliki hak. Mereka bisa menyuarakan apa yang mereka rasakan, inginkan atau rencanakan. Hampir dua puluh empat jam dalam sehari, negara pikiran tak pernah beristirahat, senantiasa aktif dan bekerja.

Pagi hari, Kantuk melenguh dan menarik seluruh negara untuk tetap dalam keadaan lelap.

“Tidak, tidak”, bantah Disiplin, buru-buru menepis cengkeraman Kantuk bersama Malas di kedua tangannya. Dengan penuh tekad, Disiplin mendorong negara pikiran ke pinggir tempat tidur sampai akhirnya memerintahkan kaki dan anggota tubuh lainnya ke kamar mandi.

“Kamu akan menyesal saat kamu terlambat ke sekolah nanti!”

Negara mulai terkendali ketika selesai mandi. Dinginnya air yang mengguyur kepala dan sekujur tubuh membuat pikiran mulai jernih, dan mulai on-track lagi. Fokus kepada aktivitas yang akan dilakukan, si Perencana langsung mengambil tas dan melangkah keluar rumah, setelah terlebih dahulu menyambar sepotong roti penahan lapar.

Di jalan, tiba-tiba Panik mengejutkan saat melihat di ujung sana sekelompok anak yang nongkrong di depan gerbang. “Awas, mereka bakal minta uang jajan lagi, ” bisik Waspada, sementara Panik dan Takut mulai berjingkrak-jingkrak di dalam pikiran.

Terlambat, segerombolan perundung itu sudah melihatnya. Salah satu menarik kerah bajunya, lalu menggertak “Hayo, terlambat ya? Mana uang jajan yang kamu janjikan kemarin?”

Takut mulai berlarian di seluruh penjuru negara. Panik membuat semua jalanan macet, tak mampu menghasilkan solusi dari masalah yang ada. Negara melancarkan alarm tanda bahaya, ditandai dengan keringat dingin dan muka memucat.

Bugh!

Tiba-tiba salah satu dari berandal itu meninju mukanya. Ia tersungkur ke tanah. Tak ada guru yang ada di tempat itu, pantas saja mereka berani. Tiba-tiba saja Marah menyeruak dari balik kerumunan Panik dan Takut, mendominasi. Di belakangnya, Berani berlari terus bersamanya, mengalirkan energi yang tak ia tahu dimilikinya, lalu mengayunkan tinjunya sekerasnya ke depan.

“Nih, makan!”

Seketika ia bangkit lalu menerjang lawannya. Berandal itu kaget, tak menyangka anak yang dirundung selama itu berani membalas. Alhasil, pukulan itu masuk ke pipinya. Telak sekali.

“Hai, ada apa ini? Pagi-pagi sudah berkelahi?” guru piket yang baru muncul entah dari mana segera melerai mereka. Muka berandal itu tampak merah dan membengkak.

Penyesalan malu-malu menyeruak dari balik semuanya. Marah tiba-tiba menghilang, menguap dan tak terdeteksi. Panik tertunduk di sudut, Takut masih berdiri di sudut negara, melihat ke kanan dan ke kiri, menimbang situasi.

Dan anak itu tertunduk lesu. “Maaf, ” ucapnya, “Tapi mereka selalu mem-bully saya, Pak.”

Pak Guru melihat bolak-balik ke anak yang telah mempecundangi perundungnya. Perundung bertubuh besar itu sekarang tampak kalah dan begitu menyedihkan. Pak Guru bukannya tak pernah tahu drama perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah, hanya saja tangannya terbelenggu oleh peraturan sekolah. Ya, ayah si perundung itu donatur yayasan sekolah, terlalu penting untuk direpotkan dan bersiko apabila menegur anaknya.

Pak Guru meraih bahu si anak yang tampak lesu karena takut akan konsekuensi tonjokan tadi. “Ayo, masuk ke dalam bersama Bapak, ” katanya ramah. “Dan kamu, Toni, anggap saja ini pelajaran supaya kamu tidak menindas anak lain!”

Si Perundung terperangah. Selamanya tak ada yang pernah berani menegurnya. Tapi segelas pengalaman pahit yang dihadirkan Pak Guru dan anak yang sering dirundungnya itu, agaknya akan meninggalkan pelajaran penting bagi hidupnya : keadilan itu ada.

Dani, anak yang memiliki negara bernama pikiran dalam kepalanya, tersenyum lebar. Bahagia menjalar ke seluruh negeri, Lega membagi-bagikan rasa tenang ke segala pelosoknya, dan Haru mulai mendesak butir-butir air mata ke sudut matanya. Terseok-seok ia mengikuti langkah kaki Pak Guru yang lebar.

“Tunggu, Pak!”

—

Istana

Delapan belas tahun lamanya, dua orang suami istri itu menanti sang buah hati. Agaknya Tuhan ingin melihat bukti kesabaran dan mendengar doa-doa mereka : akhirnya seorang anak perempuan pun lahir. Cantik mungil dan sehat.

Tak bisa diceritakan bahagianya kedua suami- istri itu. Mereka merawat anak itu dengan penuh kasih sayang dan curahan perhatian yang sangat. Mereka menjaganya dengan penjagaan luar biasa, karena mereka tak ingin kehilangannya.

Maka dibuatkannya anak perempuan itu sebuah istana, yang lebih indah dari dongeng dan lebih megah dari kisah orang-orang di desa

Di dalam istana itu terdapat kolam renang yang airnya terbuat dari susu, dan dihiasi pepohonan berdaun emas. Juga terdpat taman yang berisikan hewan-hewan langka yang bercengkerama dengan bebas. Semuanya sangat indah, namun anak perempuan itu tidak bisa keluar darinya.

Ia pun mulai menginginkan kebebasannya. Tiada hari tanpa anak ini merindukan dunia luar.

Maka ia merencanakan sesuatu : melarikan diri dari istananya yang megah.

Bunga-bunga di Gaza (2)

Kegelisahan menggelepar di dalam dadaku, menyesakkan dan membuat ingin teriak. Rasa hangat air mata yang keluar setiap kali melihat saudara-saudaraku dianiaya, tak kunjung tuntas. Rasanya darahku bergolak saat Baitul Maqdis diancam akan diruntuhkan dan diganti dengan sebuah kuil. Ya Allah, di manakah keadilan ini?

DI saat hatiku menjerit, rutinitas harian harus terus berjalan. Sungguh tak masuk akal, di belahan bumi sana, saudara kita menderita tapi di sini aku tetap bisa bernapas, makan, minum dan beraktivitas seperti biasa. Janggal sekali rasanya, kesenjangan yang terjadi di dunia saat ini, saat kemajuan teknologi media merekam detik demi detik pembantaian saudaraku di Palestina sana.

Hari itu aku berdiam di masjid, dengan maksud menghafal. Setoranku belum rampung, namun hatiku kacau. Dengan dada yang masih agak sesak dengan berita-berita dari Palestina, aku pun mencoba menghafal ayat demi ayat. Saat itu aku sampai di surat Ali Imran  juz 4.


إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُۥ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ


Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,

Saat membaca ayat 140, bagai ada petir di benakku. Apakah ini jawaban yang Allah ingin kutemukan, bahwa segala penderitaan yang dialami saudara-saudara di Palestin adalah bagian dari pelajaran bagi seluruh warga bumi, seluruh umat manusia yang saat ini menyaksikan detik demi detik lewat layar gawai mereka ? Sungguh pelajaran yang tak ternilai harganya, yang diajarkan lewat dentuman bom dan tetesan darah, juga berbagai pengorbanan dari mereka yang sedang ribath di bumi Baitul Maqdis.

Bagi mereka, ini adalah penentu, yang membuat Allah bisa membedakan mereka dari orang-orang yang kafir. Kita yang sesama manusia saja sudah melihat dengan terang benderang, betapa berbedanya kualitas warga Palestina, tingkat keimanan mereka. Apakah sama orang yang memegang iman mereka dengan sepenuh raga, dengan orang-orang yang mengaku beriman namun asal-asalan dalam menjalankan syariat? Sejenak aku pun merasa tertampar.

Dan sebagian dari mereka, Allah sengaja gugurkan sebagai syuhada, lanjut ayat 140. Sebagaimana pekik perjuangan para mujahid, Menang atau Syahid ! Syahid adalah kebanggaan, syahid adalah kebebasan mereka dari jeruji penjajahan. Aku teringat video-video anak-anak Gaza yang menceritakan orangtua atau saudara mereka yang sudah syahid, “Merekalah yang sudah terbebas dari dunia ini. Kami yang masih berjuang,” tutur anak-anak itu. Dan dunia pun tersadar, selama ini yang terbelenggu adalah warga dunia, sedangkan Palestina dalam kemerdekaan alam pikiran mereka yang tak terjajah, tetap mulia di sisi Allah..

sumber gambar : dari web The Koboi Project

Bunga-bunga di Gaza

Ini kisah ratusan tahun konspirasi. Dari orang-orang yang tak suka melihat Islam bersatu dalam kekuasaan besar yang digdaya.

Ini kisah puluhan tahun opresi. Dari orang yang playing victim dan menjajah atas nama demokrasi. Merampas tanah dan kedaulatan penduduknya di atasnya.

Lalu mereka bilang, semua dimulai dari 7 Oktober 2023?

Dini hari itu orang-orang terpilih dari Gaza terbang dan menerjang jauh ke kantung-kantung penjajah. Tak menyentuh orang awam namun menghajar perajurit musuh. Hari itu kemuliaan Baitul Maqdis dibela, setelah sekian lama dinodai.

Baitul Maqdis. Salah satu pesan Nabi saw bahwa ia harus direbut, dibela dan dipertahankan, masa ini masih terpenjara di tangan penjajah. Geram hatiku bila melihat mereka menjalankan ritual sesat mereka di tanah para nabi, yang pernah menjadi tempat shalat mereka dengan imam nabi kita yang mulia.

Maka para perajurit Gaza yang gagah berani dengan Al Quran di dada mereka membalaskan kegeraman ini. Dengan senjata seadanya, musuh dibuat kalang kabut. Dunia pun gempar dengan berita playing victim-nya mereka.

Musuh membalas membabi-buta. Mengancurkan membunuh dan menyiksa, bukan para perajurit Gaza tapi rakyat jelata yang tak punya senjata. Membunuh mulai dari orang tua hingga bayi dan anak kecil. Tidak ada etika dalam penyerangan mereka.

Dan seluruh dunia masih membisu. Beberapa membela, tapi ke mana tubuh umat yang digdaya itu? Mereka telah terpotong-potong, terjual dan tersandera.

(bersambung)

Utopia

Di negeri utopia, semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Negara ada untuk mengurus penduduknua, dan penduduk dilayani seperti penumpang kelas bisnis di maskapai penerbangan : dengan sangat terhormat dan nyaman.

Di negara utopia, tidak ada pajak. Rakyat tidak perlu membayar apapun kepada pemerintah, bahkan penduduk mendapatkan tunjangan sesuai dengan kondisi mereka : misalnya pensiunan, maka akan diberikan tunjangan berupa perumahan dan biaya hidup.

Di negara utopia, tingkat kejahatannya nol. Kebutuhan ekonomi tercukupi, sehingga tidak ada kriminalitas.

Sekolah dan pelayanan kesehatan gratis. Rakyat ke sana kemari menggunakan transportasi  umum yang modern dan aman.  halte/terminal ada di mana- mana sehingga tidak sulit mencari.

Di negara utopia, uang tidak ada. Rakyat menggunkan kartu identigas untuk membayar, walau banyak hal yang didapatkan gratis.

Di mana negara utopia? Negara utopia ada, di kala rakyat sudah siap.

Dan berlarilah!

Kurang lebih tahun 2018 aku mulai menyukai olahraga lari. Olahraga yang paling murah mudah dan siapa saja bisa. Memang, banyak yang membantah bahwa olahraga lari pada prakteknya tidaklah murah karena para penggemarnya kerap memakai pakaian dan sepatu atau asesori yang berharga selangit. Tapi itu bukan aku.

Bukan itu pula yang menyebabkan aku suka pada olahraga lari. Apa pastinya, akupun masih belum jelas. Apakah karena di saat lari kita bisa sendiri dengan pikiran kita, sehingga kita bisa merenung dan berdialog dengan diri kita sendiri, asyik dengan debat dan diskusi yang tak berujung. Atau karena lari juga membiarkan kita sejenak melupakan kerumitan dalam hidup kita. Ada juga yang bilang bahwa perasaan sehabis lari itu sangat menyegarkan karena saat itu tubuh kita melepaskan hormon kebahagiaan.

Yang pasti, lari bukanlah olahraga yang hanya membutuhkan kekuatan fisik. Lari lebih banyak merupakan pertempuran pikiran, di mana niat dan konsistensi juga menjadi dominan di dalamnya. Bayangkan saja, untuk berlatih marathon, seorang pelari harus mempersiapkan diri bisa jadi lebih dari enam bulan lamanya, mengikuti program latihan yang disiplin dan juga melakukan latihan-latihan penguatan otot, pemulihan, dan juga nutrisi yang menunjang. Tanpa kekuatan tekad, susah untuk bisa melakukannya.

Karenanya lari merupakan gabungan dari kekuatan fisik dan juga kekuatan pikiran. Semua memang bisa berlari, tapi tidak semua orang bisa menjadi pelari.

Rasulullah SAW pernah berkata, pertarungan yang paling sulit adalah melawan diri sendiri. Dan perlombaan lari, walaupun pada prakteknya menjadi yang tercepat dari yang cepat, namun intinya adalah personal best , bagaimana mencapai hasil terbaik bagi diri sendiri. Bagaimana diri kita yang sekarang bisa lebih baik dari kita yang kemarin.

Aku teringat hadits dari Nabi kita yang mulia “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim)

Berlatih lari adalah cara bagaimana menjadi lebih baik setiap hari. Setiap perkembangan adalah kemajuan, dan hal itu adalah usaha kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Upeti

Laki-laki itu berdiri di depan pos satpam sampai lama. Wajahnya resah, sesekali matanya melirik ke pintu gerbang yang berada jauh di dalam. Mungkin ia berharap pintu itu akan terbuka. Namun, sampai agak siang, pintu tidak bergeming. Satpam yang ada di pos kelihatan tak peduli, agaknya sudah bosan menasehati laki-laki itu untuk tidak menunggu di sana.

Pukul setengah sembilan akhirnya pintu itu bergerak terbuka. Satpam serta merta membantu seorang laki-laki berpakaian safari hitam mendorong pintu gerbang yang berat itu. Si baju safari kemudian bergerak ke pintu pengemudi dari mobil mewah yang bergerak hendak keluar.

Seketika laki-laki yang berwajah resah itu bergerak mendekati laki-laki yang hendak masuk ke mobil.

“Pak, maaf, sebentar saja.. saya mau bicara dengan pak Direktur..”

Laki-laki berpakaian safari itu melemparkan pandangan tajam. Ia hendak segera masuk ke dalam mobil, namun ditahan oleh laki-laki berwajah resah.

“Maaf, pak Direktur sudah terlambat mau meeting. Lain kali saja bikin janji, ” ucap si safari tegas.

Dua satpam yang tadi di gerbang mulai mendekat. Tapi si laki-laki berwajah resah tak kehilangan akal, ia berlari memutar ke sisi penumpang di belakang. Lalu mengetuk-ngetuk kacanya.

“Pak Direktur… pak Direktur! Saya ayahnya Danang pak…. tolong pak, saya mau bicara sebentar.”

Satpam sudah siap mau meringkus laki-laki berwajah resah, namun kaca mobil mewah itu terbuka. Pak Direktur tampak mengisyaratkan laki-laki yang menggedor kacanya untuk mendekat. Laki-laki itu menunduk dengan khidmat, sementara sang direktur mengatakan beberapa hal. Kepala laki-laki itu terangguk-angguk, namun ekspresinya antara senang namun cemas.

Tak berapa lama, mobil berlalu keluar gerbang. Meninggalkan si laki-laki berwajah resah yang kini terpaku di depan gerbang.

“Sudah pak?” tanya satpam, nadanya agak sedikit jemu.

Laki-laki itu termangu, tidak mengiyakan tidak pula menjawab. Gontai, ia mengucapkan terima kasih ada satpam, lalu berjalan pelan ke ujung jalan, agak jauh dari rumah mewah pak Direktur. Diraihnya ponsel yang ada di saku celananya.

“Halo, bu? Tolong bilang sama Mbah, aku minta bagian sawahku dijual saja …. Iya, bu, insya Allah Danang diterima. “

Subuh Terakhir di Baitullah

Dini hari itu kita thawaf, perpisahan dengan Ka’bah yang keberadaannya sudah begitu akrab karena setiap hari kita bersamai, kita tatap, kita raba, kita tangisi dalam pinta kita pada sang Pemiliknya.

Thawaf wada dipimpin oleh ustadz yang selalu membimbing kita saat haji, yang memang selalu menghanyutkan jama’ah dengan bacaan doanya yang merengek, menghiba dan mengisak. jamaah larut dalam sendu, apalagi ditamba kesadaran bahwa inilah kali terakhir kita berada di Haram.

Doa sesudah thawaf jadi penuh isak tangis saat Ustadz kembali mengatakan betapa beruntungnya kita dan semoga Allah jaga dan kembalikan kita ke rumah-Nya yang suci. Yaa Raddad, ya Raddad, urdudna ilaa baitikal haram.

Qiyamul layl itu menjadi salat terkhusyukku selama di Haramain. Salat yang dilakukan dengan lambat dan penuh khidmat karena tak ingin segera berakhir masa curhat itu, me time dengan Allah, di waktu di mana Allah sendiri turun mendekati kita di langit dunia.

Bila dibandingkan dengan salat yang kita lakukan di negara sendiri, betapa berbedanya nuansanya!

Bayangkan kita sedang sibuk dengan aktivitas harian kita, lalu azan berkumandang. kita memandang azan sebagai interupsi yang kurang mengenakkan dari flow aktivitas kita yang lagi khusyuk kita tekuni. alih-alih menjawab azan, kadang kita tetap cuek meneruskan kerjaan atau malah ngobrol sama teman. padahal Allah sedang memanggil kita!

Panggilan yang begitu kita rindukan, menggema di langit-langit Masjidil Haram dan Nabawi dengan merdu, dan membawa kebahagiaan di hati kita. 

Lalu saat mendirikan salat, ada ketenangan tersendiri yang hadir. Perasaan yang hangat dan menenangkan, yang berasal dari terbentuknya benang-benang halus yang akan memperkuat buhul tali Allah yang kita genggam selalu. Kita terhubung pada saluran langsung ke Allah! Allah dekat, sangat dekat dengan kita.

Bolehkah saya memperbandingkan perasaan nyanan ini dengan perasaan Nabi kita yang mulia saat waktu sholat tiba. Saat beliau berkata pada Bilal “Wahai bilal azanlah, istirahatkanlah kami dengan salat..”

Salat bukanlah interupsi yang menganggu keasyikan dunia. karena sesungguhnya dunia bukan hal terpenting bagi kita. kita ini musafir yang sedang mencari bekal di dunia, menuju kampung akhirat yang kekal.

Maka istirahatkan segala kelelahan dunia ini dengan salat, yang seakan menjadi forum diskusi dan curhat kita dengan Allah. Penghiburan atas segala kenyataaan dunia yang memang tak akan seindah kampung akhirat kita, surga.

Ya Allah, jagalah salat kami, dan jadikanlah kami dan anak cucu kami orang2 yang selalu mendirikan salat🤲

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai