Of God and men – tentang Tuhan dan manusia.

 

waktu aku kecil, aku adalah anak yang penakut. sedemikian penakutnya, sehingga aku sering berdoa pada Tuhan di malam hari. Doaku sangat panjang dan detail. Selain tentang ketakutan-ketakutanku pada neraka dan hal-hal mengerikan lainnya, doaku juga mendaftar orang-orang yang aku mintakan kebaikan dilimpahkan dari TUhan.

Seiring bertumbuhnya diriku, Tuhan tak meninggalkanku. Dia selalu ada dalam hatiku, dalam setiap hari-hariku. Mungkin karena itu juga aku tidak merasa menua satu haripun. Karena perasaan yang sama tetap ada setiap kali aku mengingat Tuhanku selalu bersamaku, sejak dulu hingga kini.

Bagiku, tidak ada jarak antara kami, aku dan Tuhan-ku. karena apa yang kukerjakan, Dia selalu tahu, bahkan lebih tahu dariku. Apa yang menimpaku, Tuhan tahu alasan terjadinya. Aku harus mempercayai-Nya, karena Ia lebih mengenali diriku daripada aku sendiri.

Kedewasaan membuat beberapa rasa dan pandangku berubah. Aku tak lagi melihat segalanya dalam hitam-putih. Bimbang melandaku saat aku harus memilih beberapa keputusan yang menurutku tak disukai Tuhan. Mulai aku menyembunyikan hal-hal dari-Nya. Aku pun tak berkata jujur pada Tuhanku. dan itu membuat jarak di antara kami…

 

 

 

Kentang tumbuk a la RS Borromeus

1 buah kentang, direbus

1 sdm mentega dicairkan

100 ml susu murni

2 sdm susu bubuk Dancow Enriched

garam secukupnya

dimixer jadi satu

sajikan hangat. kalau sudah dingin, hangatkan dengan mengukus.

Rangkaian Seminar di Bintang Bangsaku : Kurikulum PAUD

Saat membaca status Bintang Bangsaku di Facebook tentang rangkaian seminar ‘Kupas Tuntas Anak Usia Dini’, saya langsung tertarik. Bintang Bangsaku, sebuah lembaga pra-sekolah untuk anak-anak usia dini, dulu menjalankan lisensi dari Sanggar Kreativitas Bobo, namun berubah bentuk menjadi mandiri bernama Sekolah Bintang Bangsaku. Sekolah inilah yang bisa dibilang membesarkan anak pertama saya sehingga memiliki kualitas yang baik dan bisa dibanggakan.

Rangkaian seminar ini diawali dengan pendidikan tentang kurikulum PAUD oleh Kak Yanti DP, kepala sekolah Bintang Bangsaku pada hari Sabtu, 29 April 2011 di SBB. Saya akan memindahkan catatan saya ke jurnal saya ini dengan harapan ada teman-teman yang dapat pula memetik manfaat dari seminar ini, insya Allah.

Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini oleh Yanti DP

90% kepala sekolah PAUD di Indonesia tidak bisa bikin kurikulum karena sebagian merasa tidak perlu punya kurikulum. Tak sedikit kepala sekolah berpaling pada penerbit yang mengajak kerja sama untuk memakai rangkaian buku yang kadang secara kurikulum kurang pas secara urutan kesulitan dan bobot materinya.

Sebagai orangtua, kita sering terpaku pada tujuan jangka pendek yang kita inginkan dari anak kita. Contohnya adalah kita ingin menyelesaikan masalah saat itu, tapi ke depannya kita tidak tahu bagaimana. Jadinya hasilnya akan sporadis, bisa ke sini dan ke sana. Tujuan besar kita tidak akan tercapai. Contoh: makan tidak boleh disuapi, tapi di saat terburu-buru malah kita yang menyuapi biar cepat selesai. Saat itu masalah selesai, tapi tidak membangun ke depannya. AKhirnya terjadi ketidakkonsistenan.

Terdapat gerakan ketidakpuasan terhadap sekolah yang ada -> memicu tumbuhnya homeschooling. Namun jangan sampai tidak membuat kurikulum dan lesson plans, karena bila demikian sama saja adanya kita dengan memasrahkan anak pada sekolah. Bedanya, kita sendiri yang melakukan pendidikan (tapi sama-sama tidak memiliki strategi yang jelas).

Orangtua kerap menganggap anaknya adalah anak yang ‘spesial’. Padahal, kebanyakan anak berada pada mainstream. Hanya sedikit sekali anak yang khusus atau spesial. Terdapat garis tengah dari kesamaan anak-anak ini. Garis tengah ini dapat diambil sebagai dasar dalam membuat kurikulum.

Dilakukan exercise yang akan membuktikan bahwa dalam pendidikan dibutuhkan suatu ‘penuntun’ untuk mencapai visi yang diharapkan dari seorang anak. Kelompok pertama adalah bagaikan anak-anak yang tidak memiliki petunjuk dan pembimbing dalam mencapai visi/tujuan besarnya. Mereka meraba-raba dalam gelap dan hanya sedikit sekali yang bisa mencapai tujuan.

(exercise : ditutup mata lalu disuruh menuju suatu objek di ruangan) Short term goals –> akan berkontribusi pada long term goals Umumnya, tujuan (goals) secara garis besar adalah : membuat anak menjadi mandiri.

Kita harus mereview, apakah yang kita tuntut dalam short term goals sejalan dengan long term goals? exercise : dilepas dua orang berpenutup mata (diambil dari peserta seminar yang telah ‘berpengalaman’ mengamati sepak terjang kelompok pertama – ibaratnya orangtua) yang disuruh membimbing para ‘anak’ yang tadi berpenutup mata  untuk mencapai suatu target di ruangan.

Kelompok kedua sudah memiliki pembimbing, dalam hal ini orangtua yang notabene memiliki pengalaman yang lebih luas dari dirinya. Si anak dituntun oleh orangtua yang menginginkan anak menjadi mandiri. Tetapi orangtua ingin ketenangan, ingin segera terbebas dari si anak sehingga terjerumus pada short term goals daripada long term goals.

Dengan adanya kurikulum : 1. Punya visi 2. Punya misi (misi = jalan untuk mencapai visi) 3. Tahu mana terlebih dulu yang harus dilakukan (yang lebih dekat lebih feasible untuk dilakukan – exercise : seorang dengan mata terbuka harus memberi petunjuk verbal pada kedua kelompok yang memakai penutup mata untuk mencapai suatu objek di ruangan. pada praktiknya, pemimpin ini mendahulukan kelompok yang lebih dekat dengan target daripada kelompok lain yang lebih jauh, walaupun kelompok yang lebih jauh tersebut terbukti lebih berhasil (lebih pintar) daripada kelompok yang dekat dengan target).

Visi yang benar : anak tumbuh kembang optimal. Visi yang salah akan membuat misi yang salah (contoh visi salah : orangtua masukkan anak ke sekolah karena gengsi dst)

Misi yang benar : untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang. Learning is developmental : dari sederhana sampai paling kompleks Bagaikan menyusun balok, bentuk segitiga terbalik (1 di dasar, 2 di atasnya, 3 di atasnya lagi) akan rapuh dan tidak seimbang karena fondasinya kecil. Sementara dengan susunan piramida (3 fondasi, 2 di atasnya, dan 1 di atasnya lagi) akan kuat.

Usia 8 tahun ke bawah adalah fondasi ke kehidupan selanjutnya. Pada prasekolah, tahapannya adalah : 1 Motorik 2 emosional 3 imajinasi 4 logika. Jadi sebelum usia 2 tahun tidak perlu diajar berhitung, baca, bahasa –> ini sudah tahap logika. Sumber  : From Neuron to Neighbourhood

<tulisan bagian pertama dari seminar Kurikulum PAUD>

Little thing they say..

yesterday my kk Z said “ibu kan yang paling pinter menggambar di rumah ini” and it just made my day… *padahal gw cuma gambar Bernard the Bear doang*

Bermain bersama anak-anak di Dharmais

Setelah kemarin diberikan briefing bagaimana sebaiknya berinteraksi dengan pasien anak kanker, hari ini dengan berdebar saya muncul lagi di RSKD.

sepulang dari briefing kemarin saya sempat berdiskusi dengan teman-teman sesama relawan tentang metoda pendekatan kepada anak-anak. Saya pada awalnya berniat mengajarkan TIK pada anak, dengan bekal bahwa di internet akan terdapat banyak sumberdaya bahan ajar yang bisa saya pakai.

Namun setelah mencari-cari di internet sepulang dari briefing maupun malamnya (malam agak nervous karena memikirkan tentang keesokan harinya saya harus berinteraksi dengan anak-anak yang mungkin tidak akan menerima saya, yang notabene adalah orang asing), ternyata menurut pengamatan saya, bahan ajar ini bisa dilakukan dengan beberapa kondisi :

– adanya internet untuk aplikasi online

– ada pula aplikasi offline, namun memerlukan instalasi aplikasi terlebih dahulu (membutuhkan persiapan)

– beberapa aplikasi membutuhkan raw materials untuk bahan pembuatan (misalnya untuk animasi diperlukan clipart atau images/foto/file musik untuk membuat animasi)

– untuk mengajarkan materi membuat suatu projek seni rupa pada komputer kadang butuh waktu lebih dari 1 jam (untuk yang rumit)

– 1 jam adalah maksimum waktu anak pasien kanker terpapar komputer

– selain itu, memang ada pula proyek yang bisa diterapkan dalam waktu yang singkat, namun saya belum tahu demografi anak-anak yang akan saya ajar, sehingga bisa jadi kisaran usia yang terlalu lebar akan menyebabkan materi terlalu susah/mudah untuk beberapa anak.

akhirnya saya berpikir untuk ‘go manual’ dan memilih membawa beberapa perlengkapan untuk ice breaking dulu. beberapa perlengkapan itu adalah : uno stacko,

kain felt untuk bikin prakarya, beberapa buku tentang kerajinan tangan, satu set spidol dan krayon untuk menggambar, beberapa lembar kertas kosong.

saya pun bersiap untuk membantu saja teman saya yang seandainya sudah mempersiapkan sesuatu untuk bermain dengan anak-anak.

saya datang agak terlambat (janji jam 10-an, saya datang jam 11). tapi ternyata teman-teman masih duduk santai dan belum tampak anak-anak kecuali seorang yang sedang jalan-jalan di koridor.

setelah saya datang, ternyata mas Erwin kemudian ‘menariki’ beberapa anak dari kamarnya untuk datang ke ruang bermain di mana kami berada. Mereka adalah Suci dan Eki. Suci anak perempuan berumur 5 tahun dan sudah tiga minggu ada di situ, seementara Eki, remaja lelaki usia 12 tahun sudah sebulan di RSKD. Eki memakai infus yang digantungkan di kursi rodanya, sementara Suci bermasker bermotif warna-warni.

Mas Erwin memperkenalkan saya sebagai guru komputer (hahaha…entah emang betul2 lupa atau biar anak-anak pada mau belajar), kemudian saya memberanikan diri membuka Paint di komputer Suci karena dia juga keliatannya belum tahu mau ngapain di komputer saat saya tanya biasanya ngapain. Eki juga ikut membuka Paint dan langsung menggambar rumah dengan lancar. Melihat Eki sepertinya sudah bisa, saya fokus ke Suci dengan memberi tahu cara membuat bangun lingkaran, kotak dan cara mewarnai.

Faqih dan Sofi juga ikut berinteraksi, dan memberi tahu juga bagaimana mengetik nama di atas karya Suci. Eki me-fill gambarnya dengan warna tapi karena bangunnya tidak connected maka ‘kebocoran’ ini membuat seluruh karyanya terisi warna biru. Saya membantu menunjukkan ini dan dia membetulkannya… setelah selesai saya menawarkan untuk mengeprint tapi dia tidak mau. Lalu dia tanya apakah dia boleh main game. Saya jawab tentu saja boleh.. lalu Eki langsung main game Restaurant.

Sementara Suci cukup pintar menggunakan mouse dan komputer, kesimpulan keseluruhan saya, Suci anak yang cerdas dan selintas kita tidak akan tahu dia punya kanker. Ibu Suci sempat hadir dan nitip untuk diajari membaca, yang saya bilang akan coba setelah ini. Suci senang warna pink dan membuat gambar binatang dari bulatan bulatan di Paint. Dia juga diajari Faqih untuk menulis di gambarnya.

Setelah itu saya mengajak Suci untuk menggambar dengan krayon dan spidol. Rupanya memang itulah kegemarannya. Saya membuka buku “How to Draw Animals” di depan Suci dan memintanya untuk memilih ingin membuat gambar apa. Lalu dia memilih kura-kura berwarna hijau dan kadal berwarna kuning. Suci menggunakan spidol dan krayon. Setelah itu dia menggambar singa. Suci sempat mencari ibunya, lalu tak lama ibunya muncul, Suci sudah duduk lagi di kursi komputer, bermain game.

Faqih mengemukakan bahwa dengan adanya 3 workstation komputer membuat anak-anak tidak tertarik untuk memainkan mainan yang membutuhkan motorik. Padahal di komputer pun mereka hanya bermain game saja yang memang menghibur tapi tidak memberikan manfaat terlalu banyak. Selama kami menggambar dengan Suci, datang satu anak lagi diantarkan oleh Mas Erwin, yaitu Adzi. Ia langsung duduk di kursi komputer yang tersisa, mengetikkan kata kunci pada komputer dan bermain pizza Frenzy dengan Julian, calon dokter. Beberapa saat setelah jam 12, datanglah mama Adzi dan dua orang suster yang menjemput Adzi. Katanya Adzi mau mulai diinfus lagi karena tadi gagal. Ia masih ingin bermain, namun mau juga ketika dibujuk pergi.

Waktu itu saya dan dua teman cuma melihat saja sambil berfikir betapa kuatnya dia, padahal usianya mungkin baru 6 tahunan.Seperti kata mas Erwin, justru kita yang akan belajar banyak dari anak-anak di sini tentang pelajaran hidup. And I do love learning…

Berkunjung ke RSK Dharmais bagian anak

volunteerSalah satu bukti bahwa social media terbukti sangat berhasil mendiseminasikan informasi, dan bahkan memicu tindakan di kalangan sasaran informasi adalah apa yang saya alami. Berawal dari twit dari Yayasan Pita Kuning, tentang ‘pembukaan lowongan’ relawan untuk mendampingi pasien kanker anak di Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), saya yang sedang terombang-ambing antara status lulus kuliah pascasarjana, mau kerja lagi maupun mau usaha sendiri kemudian iseng-iseng datang ke RSKD.

Bagian anak di RSKD terdiri dari kamar-kamar berisikan 6 orang, maupun kapasitas yang lebih kecil. Total kapasitas adalah 30-an, namun biasanya terisi 27-an karena tenaga perawat yang terbatas. Secara garis besar saya melihat bagian anak sangat memadai, interiornya sudah dihiasi elemen grafis yang ceria khas anak dan tidak membuat stress.

Tersedia pula ruangan perpustakaan, ruangan bermain yang luas lengkap dengan ayunan dan mainan yang biasanya dimiliki keluarga berada.

Di sini ada 2 yayasan (mungkin lebih) yang saya tangkap : Yayasan Onkologi dan Yayasan Pita Kuning. Tiap yayasan memberi bantuan pada pasien kanker dalam bentuk yang berbeda.

Di sana ternyata sudah berkumpul ‘korban’ twit Yayasan Pita Kuning yang bertujuan sama dengan saya. Kebanyakan mahasiswa, beberapa dokter gigi, dan cuma saya yang ibu rumah tangga, paling tua pula🙂 Walaupun begitu karena sudah bulat niatnya, saya tetap ikut briefing dengan semangat.

Briefing dari koordinator dan juga pemimpin relawan Pita Kuning, Mas Erwin cukup menakutkan. Kenapa menakutkan? Karena selain memaparkan sisi ‘indah’ dari menjadi relawan (mengajak main anak-anak, melihat tawa mereka, membuat bahagia), juga sisi yang cukup berat seperti mendampingi saat kondisi anak sedang drop saat menjalani berbagai penanganan khusus kanker maupun saat anak menjemput akhir hayatnya, terutama bila si anak meminta kita untuk menemaninya di situ.

Relawan juga diharapkan bisa menjadi pendengar setia dari curhat orangtua anak-anak pasien kanker. Betapa beratnya, karena saya sudah punya anak, kengerian dan sedih pun meliputi hati saya. Belum lagi mendengar beberapa kisah pengalaman mas Erwin, nggak terasa mata jadi panas. Sekuat tenaga ditahan biar nggak malu-maluin mengguguk di ruangan, tau-tau sebelah-sebelah saya yang dua-duanya cowok mahasiswa sudah mulai sniffling, satu malah nyata-nyata mengusap kedua matanya. Wah ternyata bukan cuma saya !

Beberapa do’s and don’ts yang harus diingat saat berinteraksi dengan anak-anak adalah:
– jangan pernah mengatakan ‘cepat sembuh’ karena akan membuat mereka bertanya-tanya ‘apakah saya memang bisa sembuh? kenapa saya kok tidak keluar2 dari sini?’ dan pertanyaan dilematis yang tidak perlu
– jangan menyebut mereka penderita kanker, sebut saja pasien
– rumah sakit sebaiknya diubah jadi rumah sehat, demi motivasi dan konotasi positif (saya juga setuju bukan cuma Dharmais, tapi semua RS lain hendaknya juga sekarang merubah citra jadi Rumah Sehat, kedengarannya juga lebih enak!)

Mas Erwin juga mengingatkan kita agar jangan bersimpati pada mereka karena anak-anak tidak ingin dikasihani. Sebaliknya kita harus berempati atau merasakan apa yang mereka rasakan. Juga, sebaiknya tidak terlibat secara emosional dengan anak-anak yang bisa berakibat down pada kita (relawan) saat anak yang dekat dengan kita ternyata harus pergi.

Persentase kesembuhan pasien kanker bisa dibilang agak rendah dibanding pasien penyakit ringan, karenanya kemungkinan itu harus selalu kita ingat. Walau begitu, bukan berarti kita tidak memberikan kepada anak-anak apa yang menjadi hak mereka : impian, harapan dan cita-cita mereka. Kita bertugas memfasilitasi anak-anak untuk bisa berusaha mencapai hal itu, regardless berapa lama lagi hidup mereka (and we never know)

Dari sini saya juga mengingatkan diri sendiri akan beberapa hal yang (cenderung) dilakukan. misalnya anak-anak kanker itu sebetulnya tidak merasa sakit, tapi satu bagian saja dari tubuhnya yang sakit, karenanya jangan diperlakukan seperti anak yang terkapar sakit. Perlakukan biasa, tentu saja dengan mengingat keterbatasan mereka (misal ada infus, ada disability dikarenakan penyakitnya dlsb)

Kebanyakan kanker yang menyerang anak-anak ini adalah leukemia dan kanker pada bola mata, di mana kanker bola mata hampir selalu berakibat pengangkatan bola mata. Kanker pada anak juga tidak diketahui sebab utamanya,tidak seperti pada dewasa yang sudah dilakukan studinya. Kecenderungan terjadi pada saudara yang kakak adiknya sudah terkena juga ada.
Sebaiknya kanker ditangani sejak dini, karena kemungkinan sembuhnya akan lebih besar.

Info-info dasar tentang kanker bisa juga dibaca di sini (dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia).

Karena anak-anak ini daya tahan tubuhnya lemah, relawan yang sakit flu biasa harus memakai masker, sedangkan bila flu berat sebaiknya tidak usah datang ke RS. Apabila habis terkena penyakit menular seperti cacar, herpes dsbnya, diharapkan sembuh dulu dan setelah 1 bulan baru bisa berinteraksi dengan pasien.

Yang sudah dilakukan di RSKD saat ini adalah program PADU untuk anak-anak yang lebih kecil. Sedangkan yang usia SD, SMP belum ada program formalnya. Selain itu ada juga program pengembangan minat & bakat hari Rabu-Jumat. Di sini diharapkan anak bisa mengeksplorasi minat dan bakatnya supaya mengisi waktunya dengan positif. Di sini para relawan yang memiliki keterampilan bisa terjun pula mengajak anak-anak mempelajari berbagai hal seperti musik, seni rupa maupun komputer.

Karena tersedia beberapa unit komputer di ruang bermain yang cukup luas ini, maka saya usul ke Mas Erwin untuk mengajarkan ICT pada anak-anak seperti animasi, Paint atau hal lainnya. Namun mas Erwin mengingatkan bahwa karena anak-anak harus menjalani kemo dan lainnya, mereka tidak boleh terpapar radiasi komputer lebih dari 1 jam.

Hari itu kepala saya penuh rasanya dan saya senang bisa mengetahui banyak hal yang berharga dan walaupun terlambat, saya lega masih diberi kesempatan untuk melakukan hal ini.

pray for indonesia

Hidup di ranah bencana sudah dijalani bangsa Indonesia sejak ribuan tahun lalu. Sejak itu pula bangsa Indonesia telah mengalami berbagai cobaan berupa letusan gunung (krakatau contohnya, yg menggeggerkan masyarakat internasional), tsunami aceh/sumatra (2004, titik awal disadari perlunya kerangka manajemen bencana).

Mungkin ini harga yang patut bagi kehidupan serba mudah di tanah yang gemah ripah loh jinawi, subur makmur walaupun pengelolaannya masih belum baik sehingga banyak rakyat masih belum menikmatinya.

Dalam koran tempo edisi 29 okt 2010, dibahas tentang ketidkefektifan perangkat tews.

Operasional bpbd mengatakan tidak ada. teknologi tews yg cukup cepat untuk mendeteksi tsunami di mentawai yang 5-15 menit sampai.

Pihak bppt mengemukakan faktor nonteknis menyebabkan jaringan buoy dan bottom unit yang sedianya untuk mendeteksi tingginya gelombang tak dapat berfungsi. Faktor nonteknis itu adalah banyak buoy yang hilang dicuri.

Sementara pihak bmkg sebagai pemegang wewenang keputusan warning menyatakan bahwa komunikasi buoy sering on-off -yang dibantah oleh bppt.

Di saat berbagai pihak pemangku kewenangan manajemen bencana saling berkelit dari tanggung jawab atas hilangnya 300 orang di mentawai dan sekian lainnya yang meninggal, sudah saatnya masyarakat bangkit dan melakukan apa yang bisa dilakukan.

Community based disaster preparedness, program yang sangat bagus ini tak akan banyak membantu bila tidak dipelajari/disosialisasikan. Masyarakat mentawai banyak yang merasakan gempa sebelum tsunami, tapi tak banyak yang lantas lari ke dataran tinggi – hal mana yang nmenyelamatkan sedikit dari penduduk pesisir dari tsunami. Mereka tak mengerti prosedur yang harus dilakukan.

Hal yang membuat saya betul-betul prihatin pada mentawai adalah berbagai faktor seakan membuat daerah ini semakin terkucil. (1) dua buoy jerman yang dideploy di perairan mentawai nyatanya berfungsi bukan untuk mentawai tapi lebih untuk samudra lebih luas,hindia, untuk kasus tsunami regional (2) sirine tak terdapat di daerah mentawai, sehingga seandainya pun bmkg menelepon pemda setempat tentang potensi tsunami dalam waktu 5 menit, pemda tak bisa melakukan usaha darurat memperingati warganya.
(3) Pesisir mentawai tak tersentuh sosialisasi community based disaster preparedness, dikarenakan akses transport yang susah, tanpa listrik dan lainnya. Jalur evakuasi apalagi shelter tak ada.

Hal ini membuat saya berpikir, apakah karya akhir saya tentang e-gov manajemen bencana bisa berarti atau tidak sama sekali dalam situasi seperti ini..

Pada akhirnya, di saat pemangku kewenangan tak bisa berbuat banyak, masyarakat sudah menyiratkan usaha untuk memanfaatkan kearifan lokal untuk meningkatkan kesiagaan terhadapb bencana. Seperti yang dilakukan komunitas-komunitas pesisir barat sumatra, pelatihan-pelatihan mandiri dapat dilakukan dalam kelompok rawan bencana, yang banyak dibantu oleh NGO, yang terkesan berbuat lebih banyak daripada pemerintah dalam hal ini…

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.