Bermain bersama anak-anak di Dharmais
Februari 11, 2011 1 Komentar
Setelah kemarin diberikan briefing bagaimana sebaiknya berinteraksi dengan pasien anak kanker, hari ini dengan berdebar saya muncul lagi di RSKD.
sepulang dari briefing kemarin saya sempat berdiskusi dengan teman-teman sesama relawan tentang metoda pendekatan kepada anak-anak. Saya pada awalnya berniat mengajarkan TIK pada anak, dengan bekal bahwa di internet akan terdapat banyak sumberdaya bahan ajar yang bisa saya pakai.
Namun setelah mencari-cari di internet sepulang dari briefing maupun malamnya (malam agak nervous karena memikirkan tentang keesokan harinya saya harus berinteraksi dengan anak-anak yang mungkin tidak akan menerima saya, yang notabene adalah orang asing), ternyata menurut pengamatan saya, bahan ajar ini bisa dilakukan dengan beberapa kondisi :
- adanya internet untuk aplikasi online
- ada pula aplikasi offline, namun memerlukan instalasi aplikasi terlebih dahulu (membutuhkan persiapan)
- beberapa aplikasi membutuhkan raw materials untuk bahan pembuatan (misalnya untuk animasi diperlukan clipart atau images/foto/file musik untuk membuat animasi)
- untuk mengajarkan materi membuat suatu projek seni rupa pada komputer kadang butuh waktu lebih dari 1 jam (untuk yang rumit)
- 1 jam adalah maksimum waktu anak pasien kanker terpapar komputer
- selain itu, memang ada pula proyek yang bisa diterapkan dalam waktu yang singkat, namun saya belum tahu demografi anak-anak yang akan saya ajar, sehingga bisa jadi kisaran usia yang terlalu lebar akan menyebabkan materi terlalu susah/mudah untuk beberapa anak.
akhirnya saya berpikir untuk ‘go manual’ dan memilih membawa beberapa perlengkapan untuk ice breaking dulu. beberapa perlengkapan itu adalah : uno stacko,

kain felt untuk bikin prakarya, beberapa buku tentang kerajinan tangan, satu set spidol dan krayon untuk menggambar, beberapa lembar kertas kosong.
saya pun bersiap untuk membantu saja teman saya yang seandainya sudah mempersiapkan sesuatu untuk bermain dengan anak-anak.
saya datang agak terlambat (janji jam 10-an, saya datang jam 11). tapi ternyata teman-teman masih duduk santai dan belum tampak anak-anak kecuali seorang yang sedang jalan-jalan di koridor.
setelah saya datang, ternyata mas Erwin kemudian ‘menariki’ beberapa anak dari kamarnya untuk datang ke ruang bermain di mana kami berada. Mereka adalah Suci dan Eki. Suci anak perempuan berumur 5 tahun dan sudah tiga minggu ada di situ, seementara Eki, remaja lelaki usia 12 tahun sudah sebulan di RSKD. Eki memakai infus yang digantungkan di kursi rodanya, sementara Suci bermasker bermotif warna-warni.
Mas Erwin memperkenalkan saya sebagai guru komputer (hahaha…entah emang betul2 lupa atau biar anak-anak pada mau belajar), kemudian saya memberanikan diri membuka Paint di komputer Suci karena dia juga keliatannya belum tahu mau ngapain di komputer saat saya tanya biasanya ngapain. Eki juga ikut membuka Paint dan langsung menggambar rumah dengan lancar. Melihat Eki sepertinya sudah bisa, saya fokus ke Suci dengan memberi tahu cara membuat bangun lingkaran, kotak dan cara mewarnai.
Faqih dan Sofi juga ikut berinteraksi, dan memberi tahu juga bagaimana mengetik nama di atas karya Suci. Eki me-fill gambarnya dengan warna tapi karena bangunnya tidak connected maka ‘kebocoran’ ini membuat seluruh karyanya terisi warna biru. Saya membantu menunjukkan ini dan dia membetulkannya… setelah selesai saya menawarkan untuk mengeprint tapi dia tidak mau. Lalu dia tanya apakah dia boleh main game. Saya jawab tentu saja boleh.. lalu Eki langsung main game Restaurant.
Sementara Suci cukup pintar menggunakan mouse dan komputer, kesimpulan keseluruhan saya, Suci anak yang cerdas dan selintas kita tidak akan tahu dia punya kanker. Ibu Suci sempat hadir dan nitip untuk diajari membaca, yang saya bilang akan coba setelah ini. Suci senang warna pink dan membuat gambar binatang dari bulatan bulatan di Paint. Dia juga diajari Faqih untuk menulis di gambarnya.
Setelah itu saya mengajak Suci untuk menggambar dengan krayon dan spidol. Rupanya memang itulah kegemarannya. Saya membuka buku “How to Draw Animals” di depan Suci dan memintanya untuk memilih ingin membuat gambar apa. Lalu dia memilih kura-kura berwarna hijau dan kadal berwarna kuning. Suci menggunakan spidol dan krayon. Setelah itu dia menggambar singa. Suci sempat mencari ibunya, lalu tak lama ibunya muncul, Suci sudah duduk lagi di kursi komputer, bermain game.
Faqih mengemukakan bahwa dengan adanya 3 workstation komputer membuat anak-anak tidak tertarik untuk memainkan mainan yang membutuhkan motorik. Padahal di komputer pun mereka hanya bermain game saja yang memang menghibur tapi tidak memberikan manfaat terlalu banyak. Selama kami menggambar dengan Suci, datang satu anak lagi diantarkan oleh Mas Erwin, yaitu Adzi. Ia langsung duduk di kursi komputer yang tersisa, mengetikkan kata kunci pada komputer dan bermain pizza Frenzy dengan Julian, calon dokter. Beberapa saat setelah jam 12, datanglah mama Adzi dan dua orang suster yang menjemput Adzi. Katanya Adzi mau mulai diinfus lagi karena tadi gagal. Ia masih ingin bermain, namun mau juga ketika dibujuk pergi.
Waktu itu saya dan dua teman cuma melihat saja sambil berfikir betapa kuatnya dia, padahal usianya mungkin baru 6 tahunan.Seperti kata mas Erwin, justru kita yang akan belajar banyak dari anak-anak di sini tentang pelajaran hidup. And I do love learning…



Telah pergi Adzi pada tgl 3 Juni 2011. Berita mengejutkan ini disampaikan mas Erwin lewat BBM. Walaupun saya hanya sempat bermain dengan Adzi sekali saja, tapi masih hangat dalam ingatan betapa ‘full of life’ nya dia, betapa ceria dan tegarnya dia. Semoga Adzi sekarang sudah bahagia dan tetap ceria di sisi-Nya…