Berkunjung ke RSK Dharmais bagian anak
Februari 10, 2011 11 Komentar
Salah satu bukti bahwa social media terbukti sangat berhasil mendiseminasikan informasi, dan bahkan memicu tindakan di kalangan sasaran informasi adalah apa yang saya alami. Berawal dari twit dari Yayasan Pita Kuning, tentang ‘pembukaan lowongan’ relawan untuk mendampingi pasien kanker anak di Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), saya yang sedang terombang-ambing antara status lulus kuliah pascasarjana, mau kerja lagi maupun mau usaha sendiri kemudian iseng-iseng datang ke RSKD.
Bagian anak di RSKD terdiri dari kamar-kamar berisikan 6 orang, maupun kapasitas yang lebih kecil. Total kapasitas adalah 30-an, namun biasanya terisi 27-an karena tenaga perawat yang terbatas. Secara garis besar saya melihat bagian anak sangat memadai, interiornya sudah dihiasi elemen grafis yang ceria khas anak dan tidak membuat stress.
Tersedia pula ruangan perpustakaan, ruangan bermain yang luas lengkap dengan ayunan dan mainan yang biasanya dimiliki keluarga berada.
Di sini ada 2 yayasan (mungkin lebih) yang saya tangkap : Yayasan Onkologi dan Yayasan Pita Kuning. Tiap yayasan memberi bantuan pada pasien kanker dalam bentuk yang berbeda.
Di sana ternyata sudah berkumpul ‘korban’ twit Yayasan Pita Kuning yang bertujuan sama dengan saya. Kebanyakan mahasiswa, beberapa dokter gigi, dan cuma saya yang ibu rumah tangga, paling tua pula
Walaupun begitu karena sudah bulat niatnya, saya tetap ikut briefing dengan semangat.
Briefing dari koordinator dan juga pemimpin relawan Pita Kuning, Mas Erwin cukup menakutkan. Kenapa menakutkan? Karena selain memaparkan sisi ‘indah’ dari menjadi relawan (mengajak main anak-anak, melihat tawa mereka, membuat bahagia), juga sisi yang cukup berat seperti mendampingi saat kondisi anak sedang drop saat menjalani berbagai penanganan khusus kanker maupun saat anak menjemput akhir hayatnya, terutama bila si anak meminta kita untuk menemaninya di situ.
Relawan juga diharapkan bisa menjadi pendengar setia dari curhat orangtua anak-anak pasien kanker. Betapa beratnya, karena saya sudah punya anak, kengerian dan sedih pun meliputi hati saya. Belum lagi mendengar beberapa kisah pengalaman mas Erwin, nggak terasa mata jadi panas. Sekuat tenaga ditahan biar nggak malu-maluin mengguguk di ruangan, tau-tau sebelah-sebelah saya yang dua-duanya cowok mahasiswa sudah mulai sniffling, satu malah nyata-nyata mengusap kedua matanya. Wah ternyata bukan cuma saya !
Beberapa do’s and don’ts yang harus diingat saat berinteraksi dengan anak-anak adalah:
- jangan pernah mengatakan ‘cepat sembuh’ karena akan membuat mereka bertanya-tanya ‘apakah saya memang bisa sembuh? kenapa saya kok tidak keluar2 dari sini?’ dan pertanyaan dilematis yang tidak perlu
- jangan menyebut mereka penderita kanker, sebut saja pasien
- rumah sakit sebaiknya diubah jadi rumah sehat, demi motivasi dan konotasi positif (saya juga setuju bukan cuma Dharmais, tapi semua RS lain hendaknya juga sekarang merubah citra jadi Rumah Sehat, kedengarannya juga lebih enak!)
Mas Erwin juga mengingatkan kita agar jangan bersimpati pada mereka karena anak-anak tidak ingin dikasihani. Sebaliknya kita harus berempati atau merasakan apa yang mereka rasakan. Juga, sebaiknya tidak terlibat secara emosional dengan anak-anak yang bisa berakibat down pada kita (relawan) saat anak yang dekat dengan kita ternyata harus pergi.
Persentase kesembuhan pasien kanker bisa dibilang agak rendah dibanding pasien penyakit ringan, karenanya kemungkinan itu harus selalu kita ingat. Walau begitu, bukan berarti kita tidak memberikan kepada anak-anak apa yang menjadi hak mereka : impian, harapan dan cita-cita mereka. Kita bertugas memfasilitasi anak-anak untuk bisa berusaha mencapai hal itu, regardless berapa lama lagi hidup mereka (and we never know)
Dari sini saya juga mengingatkan diri sendiri akan beberapa hal yang (cenderung) dilakukan. misalnya anak-anak kanker itu sebetulnya tidak merasa sakit, tapi satu bagian saja dari tubuhnya yang sakit, karenanya jangan diperlakukan seperti anak yang terkapar sakit. Perlakukan biasa, tentu saja dengan mengingat keterbatasan mereka (misal ada infus, ada disability dikarenakan penyakitnya dlsb)
Kebanyakan kanker yang menyerang anak-anak ini adalah leukemia dan kanker pada bola mata, di mana kanker bola mata hampir selalu berakibat pengangkatan bola mata. Kanker pada anak juga tidak diketahui sebab utamanya,tidak seperti pada dewasa yang sudah dilakukan studinya. Kecenderungan terjadi pada saudara yang kakak adiknya sudah terkena juga ada.
Sebaiknya kanker ditangani sejak dini, karena kemungkinan sembuhnya akan lebih besar.
Info-info dasar tentang kanker bisa juga dibaca di sini (dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia).
Karena anak-anak ini daya tahan tubuhnya lemah, relawan yang sakit flu biasa harus memakai masker, sedangkan bila flu berat sebaiknya tidak usah datang ke RS. Apabila habis terkena penyakit menular seperti cacar, herpes dsbnya, diharapkan sembuh dulu dan setelah 1 bulan baru bisa berinteraksi dengan pasien.
Yang sudah dilakukan di RSKD saat ini adalah program PADU untuk anak-anak yang lebih kecil. Sedangkan yang usia SD, SMP belum ada program formalnya. Selain itu ada juga program pengembangan minat & bakat hari Rabu-Jumat. Di sini diharapkan anak bisa mengeksplorasi minat dan bakatnya supaya mengisi waktunya dengan positif. Di sini para relawan yang memiliki keterampilan bisa terjun pula mengajak anak-anak mempelajari berbagai hal seperti musik, seni rupa maupun komputer.
Karena tersedia beberapa unit komputer di ruang bermain yang cukup luas ini, maka saya usul ke Mas Erwin untuk mengajarkan ICT pada anak-anak seperti animasi, Paint atau hal lainnya. Namun mas Erwin mengingatkan bahwa karena anak-anak harus menjalani kemo dan lainnya, mereka tidak boleh terpapar radiasi komputer lebih dari 1 jam.
Hari itu kepala saya penuh rasanya dan saya senang bisa mengetahui banyak hal yang berharga dan walaupun terlambat, saya lega masih diberi kesempatan untuk melakukan hal ini.

Baru tau kalo rupanya ada penderita kanker yang berusia belia… Pasti perjuangannya luar biasa. Semangat ya mb
aku juga baru tau banyak hal loh ti, misalnya kanker kebanyakan di anak tuh kanker darah dan mata. jd mereka kayanya ke depannya mo kasih program Braille.
thanks ya Ti ^_^
mba, aku mau juga turut serta menjadi relawan… gimana caranya?
Tika suka main Twitter ? bisa follow Yayasan Anak Kanker Indonesia, PIta kuning di @YPKAI_C3, mereka lagi buka lowongan relawan, atau bisa juga dateng langsung ke RSK Dharmais di Gatot Subroto, bangsal anak..
kak.. bsa minta contac person volunteer di Dharmais gak? saya ingin bertanya terkait penelitian saya
trims. =)
Wah, pas googling2 nemu blog ini…
Thanx buat postingannya
saya dan temen2 pengen kesana, tapi agak narveous juga karena belom pernah kesana….
bisa minta tolong dikirimin CP sukarelawan apa koordinatornya ga mbak?
jadi biar kita kontak2an dulu
@rista dan @ester mending langsung kontak ke RSK Dharmais aja atau follow twitter @YPKAI_C3 untuk lebih jelasnya
saya juga ingin menjadi relawan, sy sudah bekerja, free hanya sabtu-minggu. apakah masih ada kesempatan dengan waktu yg terbatas Mba? thanks
sy mau daftar jd relawan gmn caranya ya? & pengen tau jg apa saja yg dikerjakan relawan?
Salut…
RSKD lg buka lowongan buat perawat? klu ada buat donk di media internet