Makasih Mira, karena sudah mengajak saya ke masjid siang itu, saat pikiran sedang kalut mempersiapkan tele-meeting dan lain hal. Untungnya pikiran masih bisa memilih di saat logika hampir buntu, dan saya berjalan menuju rumah-Nya yang terletak setengah blok dari kantor : saya, dan dua wanita Jawa : Mira dan Rina.
Saya sudah ambil wudhu di kantor, jadi langsung naik ke lantai dua tempat sholat akhwat. Saya tak henti berpikir, kenapa jarang saya sholat di masjid yang begini megah dan nyaman, yang hanya beberapa meter dari kantor. Sementara kalo makan siang ke luar, saya suka bela2 in naik taksi jauh ke Pacific Place, ke Pasaraya, ke Ambasador malah. Jadi ingat email fwd an Vivid, tentang berapa lama waktu yang kita habiskan buat tidur, sementara buat sholat cuma secuil.
Sehabis ‘absen’ sama bos besar (istilah suamiku), pikiran lagi-lagi melayang. Bagi saya, Tuhan bagaikan sahabat yang dekat dengan saya, sejak saya masih baru bisa berpikir. Duh, mungkin ini pikiran yang luar biasa kurang ajar, tapi kalau mau jujur-jujuran, itu yang saya rasakan. Tuhan adalah satu-satunya yang selalu menyertai kita sejak kita kecil, di mana pun, melihat segala tindak tanduk kita yang terkecil, kesalahan terbodoh, prestasi terbesar, peristiwa terindah yang kita alami. Saya merasakan itu lebih sebagai sahabat, yang lebih tahu kita daripada diri kita sendiri.
Tentu saja, mempunyai ’sahabat’ yang serba-Maha, adalah luar biasa. Kita harus berdoa pada-Nya (bagi saya, ini pun semacam rutinitas, di mana kita memohon, mengobrol, curhat). Saya pernah juga marah pada-Nya jika ada kejadian yang tak sesuai dengan harapan (ini zaman dulu, kita masih hijau), dan betapa seringnya saya menangis pada-Nya…
Saya mungkin salah dengan persepsi saya pada Tuhan. Ia adalah Khalik, kita cuma hamba. Tapi saya tidak bisa serta-merta mengubah pandangan yang melekat dalam hati saya semenjak saya kecil. Karena ‘kita’ begitu dekat, saya dan Allah, begitu akrab, selalu teringat dalam segala aktivitas. Saya ingin selalu demikian. Mungkin perlahan-lahan saya akan menjadi hamba yang sesungguhnya.
Mencari Tuhan,
di masjid-masjid
di mall-mall
di sekolah-sekolah
di sawah-sawah
Mencari Tuhan, tak jua bertemu
di hutan belantara
di lautan samudera
di gunung berbukit
di gurun pasir
Mencari Tuhan, begitu rindu, begitu haus
di mana akan bertemu?
Saat iman dahaga akan hadir-Mu
Kubisikkan doa di tempat-tempat itu
Berharap Kau menemuiku dalam damaiku
Mencari Tuhan,
dalam hatiku Kau ada
Dalam jiwaku Kau selalu ada
Menungguku melihat-Mu


