Quo Vadis Komik Indonesia? Workshop Komik di Japan Foundation Day 1
April 22, 2008Saya langsung kepengin banget ikut, waktu pertama kali dapat info tentang workshop komik Benny dan Mice yang diadakan Japan Foundation. Pengen banget!! Alasannya?
1) Ngefans berat sama komiknya Benny dan Mice sejak 1997, waktu Lagak Jakarta pertama kali keluar (yang edisi Pemilu sama Profesi)
2) Komik-mengomik secara general memang minat saya sejak jaman SMP, SMA, kuliah (sampai skarang)
3) Murah meriah, cuma IDR 10,000 saja.
4) Lokasinya di Japan Foundation deket banget. Ibaratnya naik ojek cuma lima ribu perak doang. Kalo jalan kaki, enggak sampe keringatan.
Akhirnya setelah mendaftar di suatu makan siang ditemani Mbak Widi (yang walaupun tidak bersedia untuk nemenin “ngabur dari kantor” buat ikutan workshop ini, tapi mau diajak daftar doang), saya pun cuti 1.5 hari khusus untuk ikut workshop komik (tentu saja ke Boss kita nggak bilang mo ikut workshop komik!)
Sore hari Senin 21 April 2008 (hari Kartini toh? lupa!) saya dan sekitar 8 orang peserta workshop lainnya berkumpul di Lt. 2 Gedung Sumitmas 2 (Japan Foundation) depan Library. Minimnya peserta workshop sempat membuat saya miris bercampur bingung. Apa publikasinya yang kurang atau sebegitu rendahnya minat masyarakat terhadap perkomikan (atau perdesaingrafisan) saat ini? Atau mungkin juga alasan yang diberikan teman2 saya yang saya ajak ikut workshop ini “jam kerja euy”, “masa cuti sih”, “makasih infonya!”
Singkat cerita, kami sudah dikumpulkan dengan peralatan tempur kami (pinsil, penghapus, spidol, drawing pen, tipp-ex) dan setelah Mbak Diana dari JF memberikan pembukaan, Benny dan Micenya datang juga walaupun telat. Agak kebingungan pula, mau ngajar apa
Khas banget antimapan para seniman.
Akhirnya kita disuruh nggambar apa aja, karakter apa aja dan nanti dinilai. Benny dan Mice keliling mengamati kami sambil sekali-sekali mengomentar “udah pada bisa gambar gini, mo ngajarin apa nih?” Banyak yang sudah jago (bukan saya tapi hehehe, udah lama banget nggak gambar, tangan ini kayaknya gak luwes lagi). Form nya udah langsung berbentuk kartun, komikal, garis2 nya luwes dan mantep!
Sesudah itu kami disuruh bikin satu karakter yang sering kita temui sehari-hari, khas, dan dikomentari layaknya karya Benny dan Mice di “100 tokoh” . Saya instan langsung ingat sama si Ibu penjual lulur dan bedak dingin yang mangkal di seberang mesjid, di pojok jalan dekat kantor. Gimana enggak, tiap hari saya lewat situ si Ibu selalu menyapa dengan semangat ‘66 nya dan menawari saya bedak dingin plus lulur. Mungkin juga karena saya pernah ngasih duit sedikit. Hehe. Atau dia memang salesman (girl?) sejati yang berdedikasi tinggi. Anyway…
Saya sempat kesulitan menggambar “kupluk” (kerudung buat ibu2 tua yang tidak menutup leher, tapi sekedar rambut doang) si Ibu Penjual Lulur & Bedak Dingin (panjang bener jabatannya). terus Mice bantuin bikin sketnya. Mice kesannya baik banget dan ringan tangan. Benny agak-agak berjarak dan jutek, tapi kocak banget.
Sesudah itu karya-karya kita dibahas dan di-”bantai”. Seru banget!! Ada yang bikin karakter kena banget, jadi kita semua langsung tau dan familiar dengan karakter yang dia bahas. Keren. Kalau karakter si Ibu Penjual Lulur & Bedak Dingin itu lebih ke kasus khusus, makanya saya juga bingung pas nerangin bahwa si Ibu itu memang bukan karakter yang umum ditemui.
Selesai workshop, peserta berebut nanya tentang kinerja Benny dan Mice, gimana cara teamworknya tiap kali bikin gambar kok udah nggak kelihatan yang mana bikinan Benny yang mana bikinan Mice, dan lain-lain. Sayangnya di-stop sama panitianya (pas saya lagi nanya, lagi!) Untungnya masih sempat foto bareng he he he..
Ini fotonya :

Tags: Indonesia, comic, komik, manga, kartun, benny, mice, drawing, japan foundation, workshop, desain, grafis


