Fitri dan Fachry

April 15, 2008

Bukan disengaja kalau kedua anak yang kupilih ini berinisial F, seperti nama kecilku. Bukan kebetulan kalau bapak sederhana tapi berdasi yang rendah hati itu siang tadi melangkah ke ruang meeting kantor kami yang entah kenapa jadi terasa sedikit berlebihan. 

Karena undanganku pada rekan2 sekantor untuk mendengarkan presentasi rumah zakat siang itu tak berjawab, hanya kami bertiga yang hadir di ruang meeting dan mendengarkan penjelasan si bapak. penjelasan itu cenderung tidak terlalu terstruktur, tak terkesan sudah dilatih sebelumnya. si bapak berulang kali menundukkan pandangannya setiap kali aku menatap langsung ke matanya. apalagi ketika kami mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi, beberapa jawabannya terkesan sangat singkat.

tapi ketika aku melihat lembaran rapor dan data anak-anak yang sedianya akan kami dukung, hatiku trenyuh. wajah-wajah kecil nan beragam, berkerudung khas anak kecil ataupun berpeci. foto berwarna dari kamera murahan atau foto hitam-putih yang sudah buram. foto-foto itu tanpa senyum. saat membalik lembaran di belakang foto, terkejut sangat aku, melihat penghasilan orangtua mereka yang tak ada melebihi UMR, bahkan kerap kurang dari setengahnya.

Karena bukan kebetulan itulah, Fitri dan Fachry mulai hari ini menjadi dua anakku yang lain.

 

Note :

Biarpun DKI Jakarta sudah membebaskan SPP untuk tingkat SD, namun untuk madrasah, masih dikenakan biaya. Banyak dari anak-anak kaum dhuafa dan yatim yang tak mampu melanjutkan pendidikannya dan kelak akan menjadi beban pembangunan di masa depan.

Adalah tujuan global untuk memberikan akses pendidikan seluas-luasnya untuk semua (education for all), dan mendorong tingkat Literacy ke level lebih tinggi. Mari kita mulai dari lingkungan kita yang terdekat..

Tags: ,

Tinggalkan Balasan