Rangkaian Seminar di Bintang Bangsaku : Kurikulum PAUD
April 30, 2011 2 Komentar
Saat membaca status Bintang Bangsaku di Facebook tentang rangkaian seminar ‘Kupas Tuntas Anak Usia Dini’, saya langsung tertarik. Bintang Bangsaku, sebuah lembaga pra-sekolah untuk anak-anak usia dini, dulu menjalankan lisensi dari Sanggar Kreativitas Bobo, namun berubah bentuk menjadi mandiri bernama Sekolah Bintang Bangsaku. Sekolah inilah yang bisa dibilang membesarkan anak pertama saya sehingga memiliki kualitas yang baik dan bisa dibanggakan. Rangkaian seminar ini diawali dengan pendidikan tentang kurikulum PAUD oleh Kak Yanti DP, kepala sekolah Bintang Bangsaku pada hari Sabtu, 29 April 2011 di SBB. Saya akan memindahkan catatan saya ke jurnal saya ini dengan harapan ada teman-teman yang dapat pula memetik manfaat dari seminar ini, insya Allah. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini oleh Yanti DP 90% kepala sekolah PAUD di Indonesia tidak bisa bikin kurikulum karena sebagian merasa tidak perlu punya kurikulum. Tak sedikit kepala sekolah berpaling pada penerbit yang mengajak kerja sama untuk memakai rangkaian buku yang kadang secara kurikulum kurang pas secara urutan kesulitan dan bobot materinya. Sebagai orangtua, kita sering terpaku pada tujuan jangka pendek yang kita inginkan dari anak kita. Contohnya adalah kita ingin menyelesaikan masalah saat itu, tapi ke depannya kita tidak tahu bagaimana. Jadinya hasilnya akan sporadis, bisa ke sini dan ke sana. Tujuan besar kita tidak akan tercapai. Contoh: makan tidak boleh disuapi, tapi di saat terburu-buru malah kita yang menyuapi biar cepat selesai. Saat itu masalah selesai, tapi tidak membangun ke depannya. AKhirnya terjadi ketidakkonsistenan. Terdapat gerakan ketidakpuasan terhadap sekolah yang ada -> memicu tumbuhnya homeschooling. Namun jangan sampai tidak membuat kurikulum dan lesson plans, karena bila demikian sama saja adanya kita dengan memasrahkan anak pada sekolah. Bedanya, kita sendiri yang melakukan pendidikan (tapi sama-sama tidak memiliki strategi yang jelas). Orangtua kerap menganggap anaknya adalah anak yang ‘spesial’. Padahal, kebanyakan anak berada pada mainstream. Hanya sedikit sekali anak yang khusus atau spesial. Terdapat garis tengah dari kesamaan anak-anak ini. Garis tengah ini dapat diambil sebagai dasar dalam membuat kurikulum. Dilakukan exercise yang akan membuktikan bahwa dalam pendidikan dibutuhkan suatu ‘penuntun’ untuk mencapai visi yang diharapkan dari seorang anak. Kelompok pertama adalah bagaikan anak-anak yang tidak memiliki petunjuk dan pembimbing dalam mencapai visi/tujuan besarnya. Mereka meraba-raba dalam gelap dan hanya sedikit sekali yang bisa mencapai tujuan. (exercise : ditutup mata lalu disuruh menuju suatu objek di ruangan) Short term goals –> akan berkontribusi pada long term goals Umumnya, tujuan (goals) secara garis besar adalah : membuat anak menjadi mandiri. Kita harus mereview, apakah yang kita tuntut dalam short term goals sejalan dengan long term goals? exercise : dilepas dua orang berpenutup mata (diambil dari peserta seminar yang telah ‘berpengalaman’ mengamati sepak terjang kelompok pertama – ibaratnya orangtua) yang disuruh membimbing para ‘anak’ yang tadi berpenutup mata untuk mencapai suatu target di ruangan. Kelompok kedua sudah memiliki pembimbing, dalam hal ini orangtua yang notabene memiliki pengalaman yang lebih luas dari dirinya. Si anak dituntun oleh orangtua yang menginginkan anak menjadi mandiri. Tetapi orangtua ingin ketenangan, ingin segera terbebas dari si anak sehingga terjerumus pada short term goals daripada long term goals. Dengan adanya kurikulum : 1. Punya visi 2. Punya misi (misi = jalan untuk mencapai visi) 3. Tahu mana terlebih dulu yang harus dilakukan (yang lebih dekat lebih feasible untuk dilakukan – exercise : seorang dengan mata terbuka harus memberi petunjuk verbal pada kedua kelompok yang memakai penutup mata untuk mencapai suatu objek di ruangan. pada praktiknya, pemimpin ini mendahulukan kelompok yang lebih dekat dengan target daripada kelompok lain yang lebih jauh, walaupun kelompok yang lebih jauh tersebut terbukti lebih berhasil (lebih pintar) daripada kelompok yang dekat dengan target). Visi yang benar : anak tumbuh kembang optimal Visi yang salah akan membuat misi yang salah (contoh visi salah : orangtua masukkan anak ke sekolah karena gengsi dst) Misi yang benar : untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang Learning is developmental : dari sederhana sampai paling kompleks Bagaikan menyusun balok, bentuk segitiga terbalik (1 di dasar, 2 di atasnya, 3 di atasnya lagi) akan rapuh dan tidak seimbang karena fondasinya kecil. Sementara dengan susunan piramida (3 fondasi, 2 di atasnya, dan 1 di atasnya lagi) akan kuat. Usia 8 tahun ke bawah adalah fondasi ke kehidupan selanjutnya. Pada prasekolah, tahapannya adalah : 1 Motorik 2 emosional 3 imajinasi 4 logika Jadi sebelum usia 2 tahun tidak perlu diajar berhitung, baca, bahasa –> ini sudah tahap logika Sumber : From Neuron to Neighbourhood
<tulisan bagian pertama dari seminar Kurikulum PAUD>








